tadi sewaktu dikelas, buguru menyuruh menuliskan 10 impian ku
dan saat selesai kutulis, buguru bertanya
"siapa yang ingin mengHAJIkan orang tuanya?"
"siapa yang ingin jadi tahfidz qur'an?"
lalu kulihat lagi daftar impianku
masya allah, tak satupun rancangan impianku kulakukan untuk membalas bakti kpada ibu dan ayahku
miris, sambil mengingat kejadian yang sering terjadi dirumah dulu, bak sebuah tayangan dalam sinetron
kilasan kilasan itu muncul lagi, kilasan kenangan yang tak satupun orang ingin memilikinya.
impianku adalah pergi ke negara sakura, impianku adalah bisa tinggal disana dan memiliki restoran berbasis indonesia disana. Tak masalah kalau ibu dan ke tiga adikku ikut. Yang jelas impianku adalah pergi dari masa masa yang sering terjadi dulu itu, masa masa yang menyakiti keluargaku, egoiskah? egoiskah kalau aku ingin pergi dari keadaan itu?
lalu bila ditanyakan soal "menikah" aku terlalu pengecut untuk menjawabnya, apalagi ada embel embel dari temanku yang cerita "menikah jangan tua tua umurnya, perempuan ndak baik"
bisa jawab apa aku? aku cuma bisa tersenyum dengan bisikan dihati..
Menikah, itu sesuatu hal yang masih rancu di otakku, masih belum bisa diterima oleh perasaanku. Aku hanya ingin mengepakkan sayap, keliling dunia! melihat Maha Karya Yang Kuasa, tanpa batas, sambil mengucap syukur, dan takjub luar biasa. itu impianku.. seperti impian anak TK? tapi itu tetap impianku..
kata para ahli agama, perempuan itu ndak baik kalau berkeliaran sendirian, harus ada temannya. Tapi tidak harus dengan cara menikah.
melihat Pesawat rumah tangga ayah ibuku saja sudah membuatku takut, membuatku sangat takut dalam memikirkan pernikahan. Awal sebuah pernikahan itu amat sangatlah indah, yaa. Pada awalnya mereka juga demikian. Tapi melihat kelakuan mereka berdua yang sering terjadi pada masa masa itu membuatku takut, mungkin aku perlu dibawa ke sebuah psikolog, untuk membantu menghilangkan rasa takut itu. Psikolog juga salah satu impianku, aku bermimpi aku bisa membantu meluruskan benang benang kusut (masalah masalah) orang lain, tapi benang kusutku sendiri saja belum bisa aku luruskan.
ibu, apabila aku bercita cita pergi dari rumah yang aku tinggali sekarang, apakah ibu akan merasa kehilangan? aku pernah sebersit bertanya itu dalam hati. dalam ruang hampa lamunan
aku sering merasa sayangmu itu tak terbagi rata kepada kami berempat,
Anak macam apa aku? memikirkan hal seperti itu.
jujur aku muak bu, aku muak mendengar kisah sedih ibu, sejak aku kelas 6sd ibu sudah mencekokiku dengan cerita cerita itu, cerita seperti disinetron sinetron yang pernah kulihat ditelevisi. Aku kesal, karena usahaku untuk membuatmu tersenyum karena kebanggaanmu padaku tak pernah cukup. satupun tak pernah, yang ada dan semakin mengakar adalah membuatmu kecewa. hingga pada akhirnya aku tak peduli, karena kebanggan itu sudah digantikan oleh adik adikku. bu, egoiskah aku? aku masih ingin pergi dari sini, keliling dunia. Anak yang tak pernah membuatmu bangga ini ingin pergi dari pesawat rumah tanggamu, bukan berarti aku pergi karena menikah, tapi mencari kebebasan, dan menambah imanku padaNya.
"allahu akbar.."
astaga, air mataku tiba tiba saja menetes ke lantai masjid sekolah, saat sedang ruku'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar